Blog Kami

Kursus Barista di Jogja

Kursus Barista di Jogja

Kursus barista di Jogja – Profesor kopi kali ini akan menceritakan tentang Multatuli dan Novel yang berjudul Max Havelar. Sebuah novel yang menceritakan tentang kopi dimasa Belanda.

Bung dan nona pasti bertanya, apa relasi antara Multatuli, Max Havelar dan kursus barista di Jogja? Oh ada relasinya. Silahkan diresapi pelan-pelan ya bung dan nona.

Kopi menjadi minuman favorit dunia sejak awal kemunculannya. Bahkan kopi nusantara juga pernah berjaya di pasar Eropa. Dalam laporan Majalah Tempo, edisi khusus Kopi dijelaskan bahwa pada era 1724 – 1726, muncul 2.145 Ton kopi yang berasal dari pulau Jawa membanjiri pasar kopi di Eropa.

Bahkan, kopi yang mulai di tanam Belanda di di tanah Jawa, khususnya di wilayah pegunungan Jawa Barat sejak tahun 1699, berbuah manis. Kopi Jawa telah menggeser kopi Yaman di pasar Eropa. Saking Favoritnya kopi, permintaan terhadap kopi melonjak.

Tahun 1724-1726 saat ribuan ton kopi asal tanah nusantara membanjiri pasar kopi di Eropa, permintaan kopi makin tinggi. Sehingga harga satu kilonya bisa menembus tiga Gulden. Harga fantastis tersebut, membuat kopi dijuluki “emas hitam”. Orang-orang Belanda yang berbisnis kopi pada masa itu, untung besar.

Menjadi Barista, Meracik Emas Hitam Bersejarah

Emas hitam yang membuat pebisnis kopi dan pemerintah Belanda kaya raya tersebut memancing korupsi para pejabat Belanda. Fakta korupsi pemerintah Belanda direkam langsung oleh Multatuli, lewat tulisannya yang berjudul, “Max Havelaar.”

Multatuli, adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Orang Belanda yang didapuk menjadi asisten residen di wilayah Rangkasbitung, Lebak, Banten. Lalu menjadi tokoh yang jatuh cinta pada rakyat Lebak Banten, karena rasa iba terhadap faktor produksi rakyat disedot oleh pemerintah.

Jatuh cintanya diekspresikan dengan mengirimkan sebuah laporan pada Brest – seorang residen di Serang -, laporan berisi tuduhan bahwa Bupati Lebak telah melakukan tindakan yang menguntungkan pribadi. Hati Multatuli tak tega melihat rakyat kelas akar rumput, yang terus dihisap oleh residen yang korup.

Baca Juga  Sekolah Barista, Roastery & Laboratorium Kopi Terbaik Di Jogja

Douwes Dekker didatangi Brest. Residen Serang itu meminta Multatuli memberikan bukti bahwa Bupati Lebak telah menyalahgunakan kekuasaan. Namun, Multatuli tidak menuruti permintaan Brest. Akibatnya, Brest melaporkan Multatuli serta meminta kepada Jenderal Twist, agar Multatuli dipecat.

Jenderal Twist ternyata hanya ingin memindahkan Multatuli ke Ngawi. Toh, Multatuli ternyata menolak perpindahannya dan menyatakan untuk berhenti dari jabatan yang sudah diembannya.

Langkah Multatuli bergerak meninggalkan Lebak. Hati dan pikirannya menggiring langkahnya kembali ke Belanda. Ternyata Multatuli menjalankan misi besar, menulis cerita tentang kebobrokan bupati lebak dan struktur pemerintahan Hindia Belanda yang korup.

Novel Sejarah Kopi Nusantara serta  Politik Penjajahan Belanda di Indonesia

Tahun 1858, Multatul masuk wilayah Belgia. Multatuli yang kelak tulisannya mengemparkan Belanda dan Indonesia, memilih untuk tinggal di losmen. Di losmen tersebut, Multatulis selama sebulan intens menulis sebuah Novel yang menggambarkan pengisapan pemerintah terhadap rakyat Lebak. Tangannya memotret peristiwa ketidakadilan.

Novel tersebut terbit, judulnya, “Max Havelar, Of De Koffijveilingen Der Nederlandshe Handel-Maatschappij.” Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Max Havelar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda.”

Novel tersebut dibagian awal memang menceritakan tentang Makelar Kopi Batavus Droogstoppel. Tokoh yang memiliki anggapan bahwa orang Hindia Belanda layak menjadi budak dan dirampas tenaga serta hartanya tanpa upah.

Nah, Batavus Droogstoppel memiliki teman bernama Sjalman. Orang yang pernah hidup di Hindia Belanda, memiliki catatan-catatan semasa tinggal di Hindia Belanda, serta memiliki pengetahuan dalam bidang kopi.

Dalam Novel tersebut, muncul banyak tokoh seperti Max Havelar yang suka membantu orang lain, Saidjah yang faktor produksinya dirampas pejabat.

Baca Juga  Agus Prasetio Profesor Kopi Coday Lab & Roastery Jogja

Novel ini membuka pikiran kita sebagai pembaca, bahwa masyarakat kelas akar rumput yang dipaksa mengolah tanah oleh pribumi dan Belanda yang rakus tanpa ada imbalan. Sehingga muncul banyak masalah. Mulai dari kemiskinan dan kelaparan, yang membuat ibu menjual anaknya.

Cerita penindasan yan dikisahkan oleh Multatuli dalam Novel, merupaka potretan istimewa tentang   relasi kopi, petani, pejabat Belanda, Pejabat Pribumi pada abad 19 di Hindia Belanda.

Tanah Kaya Memunculkan Rasa Kopi Luar Biasa

Bung & Nona sudah membaca sedikit ulasan Novel berjudul Max Havelar. Untuk referensi dan melebarkan sayap pengetahua, ayo Bung & Nona baca.

Bung & Nona lewat catatan-catatan sejarah, Belanda, Inggris, dan portugis datang ke Indonesia untuk bisnis Palawija. Sehingga hasil palawija, mulai dari cengkeh, kedelai, kopi, lada, kunyit, jahe, kayu manis, serta pala bisa diekspor ke pasar Eopa, untuk mendapatkan banyak keuntungan.

Eropa sangat miskin palawija, sehingga mereka bergerak jauh  ke  Nusantara untuk mencari palawija. Hal itu menunjukkan bahwa, tanah kita ini sangat subur. Tanah tempat menyemai tumbuhan-tumbuhan penuh sangat bermanfaat dan menambah nikmat kehidupan manusia di muka bumi.

Kursus Barista di Jogja
. Menjadi Barista, Belajar Meracik Emas Hitam Bersejarah di Coday Lab & Roastery Jogja.

Tanah kita di juga dirahmati dengan kopi-kopi spesial dengan karakteristik rasa yang berbeda-beda.  Tanah Aceh memunculkan kopi spesial dengan karakteristiknya masing-masing, Tanah Priangan memunculkan kopi spesial dengan karakteristiknya yang spesial. Tanah dan lingkungan yang berbeda, memunculkan karakteristik kopi yang berbeda pula. Tanah Indonesia memunculkan karakteristik rasa kopi yang kaya pula.

Sampai sini, bung & nona sudah tahu kan, relasi antara Multatuli, Max Havelar dan kursus barista di Jogja?  Betapa  pentingnya kita sebagai bangsa Indonesia untuk cerdas mengelola dan meracik berbagai macam karakteristik kopi dengan mengikuti pelatihan-pelatihan barista.

Coday Coffee Lab & Roastery Jogja Tempat Belajar Meracik Emas Hitam Bersejarah

Karakteristik, rasa, dan aroma kopi dari berbagai daerah yang dulu jadi rebutan Eropa sekaligus menjadi lading emas untuk memperkaya pebisnis Belanda  dan pribumi, merupakan pelajaran berharga. Kopi menjadi ladang pendulang kekayaan dan menjadi kekayaan alam yang menjadi rebutan bangsa Eropa.

Kini kita sudah bebas dan memiliki kesempatan untuk mengelola kopi. Saatnya kita menyadari bahwa mengelola kopi secara profesional adalah hal yang penting.

Mengelola kopi dengan menambah Add value kopi, mengolah kopi dari hulu dengan memberikan edukasi kepada petani. Memastikan proses yang baik pasca panen. Lalu belajar meracik kopi dengan berbagai pendekatan, dan  menyajikan kopi  dengan seni yang tinggi.

Baca Juga  Apa Saja yang Dibutuhkan Barista Agar Memiliki Skill Dewa?

Banyak tempat yang pas untuk belajar meracik kopi di Indonesia. Bung & Nona bisa belajar meracik emas hitam bersejarah di  Coday Lab & Rostery Jogja.

Laboratorium kopi yang menyediakan kursus-kursus bagi calon barista di Jogja. Ruang kursus barista di Coday Lab sangat instagramable. Gelas uji cita rasa kopi komprehensif. Peralatan untuk belajar teknik meracik kopi dari manual brew hingga espresso juga komprehensif.

Kursus barista di Jogja langsung dibimbing oleh Profesor kopi. Profesor yang memiliki segudang pengalaman memberi edukasi kepada para calon barista sekaligus para barista yang ingin mendalami teknik cupping coffee test. Kalau bung & nona ingin tahu profesor kopi dan penasaran dengan profesor kopi, datang saja langsung ke Coday Lab & Roastery Jogja.

Berikut alamat Coday Lab & Roastery Jogja, tempat yang pas banget buat bung & nona untuk ikut kursus barista di Jogja. Tempatnya ada di jalan Ahmad Wahid, Mantup, Baturetno Banguntapan, Bantul, Yogyakarta 55197.

Bagi yang mau daftar kelas barista dan tanya-tanya silahkan langsung kontak WA: 081-288-146-367 (Dian).