Apakah Peracik Kopi di warung Pojok Desa Disebut Barista?

Codays- Apakah Peracik Kopi di warung Pojok Desa Disebut Barista? Menikmati kopi sambil santai ngobrol bersama teman-teman di kedai kopi sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Di desa, bapak-bapak yang mau berangkat kerja mencangkul di sawah, minum kopi di warung pojok desa sambil makan ketan yang ditaburi kelapa. Betapa nikmat sekali kehidupan mereka, sebelum sibuk mencangkul dan mengelola tanah pertanian, menikmati makanan dan minuman yang khas.

Tidak hanya bapak-bapak, kaum perempuan desa juga memiliki budaya yang sama. Saat mengambil jeda untuk istirahat menanam padi di sawah, mereka menikmati makanan di pinggir sawah dan menikmati kopi hangat ditemani angin yang berhembus menyapu wajah. Betapa enaknya kehidupan mereka.

Di kota-kota, budaya minum kopi juga sedang melejit. Sore setelah bekerja di kantor, para karyawan  mampir ke kedai kopi bersama teman-teman untuk ngobrol ringan atau membicarakan proyek. Anak-anak muda yang sedang duduk di sekolah tingkat menengah dan anak-anak muda mahasiswa serta mahasiswi juga sering duduk di kedai kopi untuk mengerjakan tugas atau ngobrol ringan menghabiskan waktu bersama.

Baik masyarakat desa dan kota semuanya disatukan oleh kopi. Biji kopi yang ditanam petani yang kemudian diolah oleh barista menjadi kopi nikmat menyatukan masyarakat Indonesia. Nah, apakah masyarakat Indonesia baik di desa atau kota tahu sejarah muncunya istilah barista? Mutlak ada yang tahu dan juga mutlak ada yang tidak tahu.

Apakah Peracik Kopi di warung Pojok Desa Disebut Barista?
Coday.id

Agar paham sejarahnyaa, ayo kita diskusikan bersama-sama sejarah munculnya istilah barista. Dalam literatur sejarah, istilah barista berasal dari negara Italia. Di Italia barista berarti pelayan bar.

Awal mulanya di Italia pada tahun 1600-an, orang yang melayani pengunjung bar dan meracik minuman baik yang mengandung alkohol atau non-alkohol disebut bartender. Nah, pada tahun 1600 penyebaran kopi sudah sampai ke daratan Italia, alhasil di negeri tersebut mulai bermunculan kedai-kedai kopi. Alhasil dengan menjamurnya kedai kopi yang melayani minuman berbahan dasar kopi, maka masyarakat Italia menyebut pelayan kedai kopi dengan sebutan, “barista.”

Bartender dan barista sama-sama profesi meracik minuman. Perbedaannya terletak pada bahan dasar yang digunakan untuk membuat minuman. Bagi pelayanan minuman yang berbahan dasar kopi, disebut sebagai barista. Bagi barista laki-laki dalam bahasa Italia disebut baristi sedangkan bagi barista perempuan disebut dengan bariste. Seiring menyebarnya kopi ke seluruh dunia, istilah barista juga ikut menyebar ke seluruh dunia.

Lalu tanda Tanya besarnya, apakah ibu-ibu di desa yang meracik kopi tubruk di warung sederhana pojok desa untuk dinikmati bapak-bapak sebelum berangkat kerja, bisa disebut sebagai barista? Apakah sebutan barista hanya berlaku bagi orang yang ahli dibidang kopi, tahu seluk beluk kopi dan paham teknik meracik kopi menggunakan mesin espresso?

Nah untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuk diskusikan bersama. Bagi yang tahu jawabannya segera isi kolom komentar.

Kopi Asal Garut Ini Dibandrol Rp 2 Juta Per Kilogram

Coday- Garut memang dikenal dengan tradisi adu domba dan dodolnya yang terkenal legit, namun ada satu lagi produk yang pasti diburu oleh wisatawan yakni kopi arabica. Maka dari itu petani kopi di Garut kini melakukan inovasi terhadap olahan kopi arabica melalui proses fermentasi dan hasilnya adalah kopi yang disebut dengan Wine Coffee.

Continue reading “Kopi Asal Garut Ini Dibandrol Rp 2 Juta Per Kilogram”